oleh

Pulau Lakkang, Destinasi Tersembunyi di Kelurahan Tallo Makasar

Mamminasata.com – Pulau spermonde dalam imajinasi atau bayangan kita, selalu identik dengan pantai, pasir putih, pohon kelapa dan jejeran perahu, phinisi atau tangkapan hasil laut yang melimpah, atau sederet aktivitas nelayan lainnya yang berhubungan lansung dengan perairan (Baca: laut) lepas.

Tetapi, tunggu dulu. Di Kota Makassar, terdapat sebuah pulau yang oleh orang-orang lokal dan pendatang gemar menyebutnya sebagai pulau tersembunyi. Namanya pulau Lakkang, berpenduduk kurang lebih 1000 orang jiwa, dengan 300 jumlah kelompok keluarga (kk). Pulau ini justeru dianggap menjadi Anomali.

Musabab ditengah defenisi dan terminus yang berkelindang selama ini, soal pulau memang selalu jamak, hanya diasosiasikan ke wilayah kepulauan spermonde, maritim, kepulauan terluar, terpinggir nan jauh dari hiruk pikuk aktivitas perkotaan.

Situs Bunker Bersejarah di Pulau Lakkang kelurahan Tallo Makassar Sulawesi-Selatan.

Kampoeng Lakkang ini dikenal dan disebut-sebut oleh warga kota Makassar sendiri sebagai sebuah pulau. Anomalinya disini. Sebab 90% wilayahnya masuk kategori agraris, sektor pertanian, tambak dan perkebunan menjadi penopang atau penunjang (pendapatan) utama masyarakat lokal. Lebih mirip ciri masyarakat pesisir urban (Baca: Kota)

Tak tanggung-tanggung, puluhan hingga ribuan ton beras pertahunya diproduksi dari pulau ini, untuk membantu ketersediaan dan ketahanan pangan di kota Daeng. Anomali keduanya, banyak pemuda usia angkatan kerja, kepala keluarga dari pulau ini, tak berprofesi di sektor kelautan.

Tetapi justeru, lebih memilih menjadi pekerja buruh lepas (out-sourching) di banyak perusahaan atau pabrik besar yang menjulang tinggi di sepanjang wilayah Maros dan Makassar. Mulai jalan tol Ir. Sutami, pelabuhan Soekarno Hatta, pelabuhan paotere, Pannampu’  hingga ke Kawasan Industri (KIMA) Makassar dan Bandara Sultan Hasanuddin Air port di Kabupaten Maros.

Dengan luas kurang lebih 222 Hektare. Lakkang juga menjadi swasembada pangan khususnya untuk penduduk Lokal. Memiliki topografi, etnografi dengan karakteristik masyarakatnya yang lebih mirip masyarakat pesisir. Padahal Nun jauh dari daerah kelahiran (Pangkajene Kepulauan)

Salah satu Politisi partai NasDem kota Makassar. Rudiyanto Lallo yang juga Ketua DPRD Kota Makassar periode 2019-2024, asli kelahiran pulau ini (Baca: Pulau Lakkang) secara pede dan terang-terangan.

Pada suatu kesempatan di hadapan Gubernur NA pernah membuat semacam pengakuan, kalau di pulau ini banyak yang berhasil naik haji berulang-ulang, gara-gara hasil panen produksi udang Sitto.

Ikan Bandeng hasil tambak dari pulau ini juga pernah dikleim oleh pemilik akronim RL ini sebagai penghasil ikan Bandeng ternikmat atau tergurih di kota Makassar, bahkan sesantaero Sulsel, konon cita rasa bandeng dari pulau ini tak kalah lezat dari ikan Bandeng asal Kabupaten Siwa dan Pangkep.

Dari sisi historis, kehidupan sosio-politik. Warga Pulau Lakkang juga punya sejarah panjang. Medio 1990, 1945, 1949 hingga munculnya gerombolan dan serikat pasukan DII/TII.

Konon, dulu masyarakat pulau ini. pernah berafiliasi, membangun hubungan politik diplomasi dengan pasukan tentara Nippon (Jepang)

Kala itu. Bentuk politik kompromi yang dijalankan masyarakat pribumi, pulau Lakkang dimasa pendudukan kembalinya tentara Belanda.

Membuat nenek moyang warga asli dari pulau ini, pernah memilih berdamai dengan tentara Jepang. Mirip mirip strategi politik Raja Aru’ Palakka di Bone. Kehadiran Bunker menjadi jejak sejarah yang bisa dilacak dari cerita politik akomodatif dan strategi kompromi ini.

Untuk sampai ke Pulau Lakkang harus menyewa perahu, namanya Pappalimbang, Sebagai pulau yang diapit dan dikelilingi oleh Sungai Tallo, Sungai Pampang, Sungai UNHAS, maka untuk bisa sampai ke lokasi ini harus melalui dermaga Kera-Kera yang letaknya pas berada di belakang area kampus Unhas.

Jasa Pappalimbang lainnya juga tersedia atau bisa ditemui di empat titik berbeda, diantaranya di sekitar toll Ir Sutami, Pannampu, Tol Reformasi (Hino) dan pelabuhan Paotere.

Ditengah gempuran dan himpitan gedung-gedung mewah menjulang tinggi yang mengelilingi Kampung ini dari empat penjuru mata angin.

Sorot mata saya pada perusahaan-perusahaan yang berdiri tegak, gagah, namun sedikit tampak agak pongah. Oh God, pintaku dalam hati membatin dan berdoa. Biarlah suara air, kicauan burung indahnya panorama hutan mangrove, pemandangan indah, petak sawah, kebun, produksi pertanian dan tambak milik warga pulau Lakkang bertahan hingga 1000 Tahun lagi.

Biarkan ia menjadi jantung swasembada dan paru-paru di kota Daeng. Kuusap wajah itu memakai air sungai Tallo yang mulai tercemari itu sambil kumembatin Amiin, Semoga saja.

Penulis: Sulaeman