oleh

Obituari, Sebuah Perayaan Menyambut Setahun Kepergian Didi Kempot

Oleh: Sulaiman Gibrhan

“Aku pengin dadi koyok mama, dadi Jowo.” kata Annelis pada Nyai Ontosoroh di dalam Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer.

Jika sosok Pram di mata Hanum adalah sosok yang dianggap sangat lihai mengemas cerita ‘Bumi Manusia’. Sehingga anak-anak remaja saat itu benar-benar merasakan amarah kepada kolonial Belanda, saat Annelies dan Minke dipisahkan.

Padahal tanpa ada adegan peperangan dengan senjata sambil memekik ‘Merdeka’ yang heroik sebagaimana yang digembar gemborkan guru Sejarah di sekolah, kata Hanum kira-kira demikian.

Sinopsis yang ingin Saya tarik dan antar dari cerita diatas kurang lebih, betapa penggambaran Pram tentang sosok Annelis, sosok Minke & Nyai Ontosoroh begitu sangat khas, unik, otentik, punya daya tarik dan karakter yang begitu sangat kuat, sarat makna dan memuat pesan-pesan perjuangan yang begitu amat dalam tersirat dan tersurat.

Soal sosok Annelis seperti pada bait paling awal tulisan ini disinggung; menunjukkan jati diri yang authentik. Lalu, siapa Annelis sesungguhnya, siapa permpuan Jawa itu? yang punya semangat dengan spirit pemberani yang tak lazim.

Tanpa rasa takut, Ia Annelis seorang gadis Jawa yang masih remaja itu, menolak disebut sebagai Hindia Belanda, lebih-lebih menjadi Belanda. Padahal ia punya hak dan tentu saja peluang cukup besar untuk hidup tenang, bahkan kaya dan bergelimpangan dengan harta (rampasan).

Tetapi ia tak mau, ia emoh ikut pada ideologi dominan yang kian menhegemoni dan menjajah bangsa ibunya itu. Ia ingin jadi gadis dan manusia Jawa yang merdeka, bebas dan tak didikte oleh ideologi apapun dan oleh siapapun.

Ia tetap ingin menjadi bagian Indonesia seutuhnya, menjadi perempuan Jawa yang otentik. Manusia Jawa atau manusia Nusantara yang seutuhnya, seperti layaknya sang ibu atau juga kekasihnya yang terlanjur diminkekan oleh Belanda.

Beda Pram (Baca: Pramoedya Ananta Toer). Tentu juga beda dengan Didi Kempot. Jika Pram berhasil merebut dan menggaet perhatian para pembaca atau followersnya yang beragam; kalangan terpelajar, aktivis cum-intelektual dan sebagainya.

Darisana Pram sukses membawa semua orang untuk merasa turut terlibat atau merasakan bagian sisi emosional terdalam untuk pembacanya, bagaimana perjuangan Minke dan 2 aktor kunci/gadis Jawa yang notabene adalah 2 perempuan hebat, tangguh dan pemberani di dalam Bumi Manusianya.

Jika Pram dipenjara dan diasingkan ke pulau Buru. Lalu, melahirkan segudang karya karyanya. Berbeda, justeru Didi kempot mengambil dan menempuh hidup lewat jalanan untuk menciptakan karya dan lagu-lagu nuansa Jawa kental. Lagu yang khas dengan campur sarinya yg menghibur itu.

Darii sanalah ia memulai dan menghabiskan usianya. Dan disanalah jua, ia justeru sukses menggaet audiens dan para pengikut atau loyalisnya. Salah satu komunitasnya bernama Sobat Ambyar atau lebih beken dengan julukan ‘Sad Bois club’.

Obituari atau menyoal sang maestro Didi Kempot, diungkap oleh Donny Pardia, soal kekaguman banyak orang terhadap Didi. sampai ia mengutarakan ini; Danisious Prasityo atau yang lebih akrab disapa Didi Kempot, ialah seniman atau musisi sukses mengubah ratapan jadi tarian.

Yeah, bagi pengulas ia maestro seni, di bidang musik itu sendiri, wabil khusus untuk dunia musik Jawa (campur sari). Seperti Pram yang menjadi bapak dan maestro sastra Kita. Didi kempot lewat lagu-lagunya sukses menggambarkan, juga melukiskan sesuatu lewat makna makna atau pesan-pesan tersirat dan tersurat, akan sebuah perlawanan yang tidak musti melulu memakai teks atau bahasa yang menarik urat leher.

Lahir dari jalanan,melalui prinsif seorang Jawa yang terbiasa hidup prihatin, ndeso, yang kalah, nelangsah, wong cilik, terbiasa patah hati Dari sanalah semua prinsifnya ditanamkan, sejak kecil hingga wafat. ia banyak menghabiskan waktunya, selama rentan waktu puluhan tahun di jalanan, dan ia tetap jua jadi Didi kempot.

Didi Kempot yang otentik, yang Jawa tapi pikiran dan tindakannya selalu berlaku universal. Jangan tanya soal keberpihakan dan kontribusinya bagi kemanusiaan. Ia selalu terbuka menghargai dan memedulikan yang lain yang berbeda.

Sapa, senyumnya dibagi pada semua orang yang ia jumpai, tanpa peduli kamu siapa, jabatan, posisi atau kepentinganmu apa.

Bagaimana ia lalu, meninggalkan banyak orang dan penggemarnya begitu tak tak disangka dan tak diduga disaat yang belum lama ia tampil di hadapan kita semua lewat layar kaca dalam tugas mulia kemanusiaan.

Menuju Khusnul khatimah di pengujung hidupnya, ia mengajak para dermawan untuk melawan Covid 19 dengan urunan. Lalu kita kehilangan salah satu pahlawan kemanusiaan saat lagi pas sayang-sayangnya, saat jutaan musuh tak terlihat berjenis virus itu menyerang dunia yang kita tinggali.

Tak salah, jika Kiai Said Aqil Siraj menyebut Didi Kempot sebagai insan relijius yang peduli pada ummat. Sebelum beranjak pergi ia memang bermuallaf. Lalu, menciptakan sebuah lagu untuk NU. Disana ia mengajak orang untuk mengikuti ulama-ulama Nusantara yang punya sanad atau keilmuan jelas.

Sebuah petunjuk metodologis yg sangat dasar tentang cara berislam atau cara merawat iman tanpa melukai atau memberangus ciptaan Tuhan yang the others, atau semacam petunjuk radikal dalam merawat iman dengan menggunakan kaidah pengetahuan yang ilmiah atau dengan sumber literatur yang jelas dan bersambung serta dapat dipertanggung jawabkan.

Hal itu dikampanyekannya lewat persembahan lagunya untuk NU itu, ‘Nusantara dan Indonesia itu’.

Terpisah dan berbeda lagi di mata Agus Mulyadi redaktur dan expimpinan mojok, pria asal Magelang itu bercerita tentang kepedihan dan rasa harunya setelah ditinggal sang idola.

Sampai ia menulis. Jika ibu melahirkan anak, tapi tidak dengan ibunya Didi Kempot, ia melahirkan legenda.

Masih Agus menambah paksa guyonnya ditengah duka cita. Hanya ditangan Didi Kempotlah negara sebesar Swiss yang kuat mesti tanpa tentara itu bisa luluh menjadi pesakitan.

“Swiss Swakmestine ati Iki nelangsah.”

Barangkali Agus benar, merayakan kepergian Didi kempot tak ada jalan lain adalah kecuali dengan perayaan. yah merelaknnya, melepasnya dengan tangis atau iringan doa.

Sebagai salah satu dari mungkin jutaan orang pengikut dan pencinta lagu-lagunya. Kita begitu kagum atas kepiawaiannya menjelaskan makna tersirat dalam setiap lagunya.

Bayangkan nama-nama stasiun dan tempat yang semua diakrabi oleh orang Jawa atau Jogja, mungkin akan merasa kehilangan setiap bernostalgia dengan lagu lagunya.

Maksudku, tengoklah bagaimana Didi Kempot menjadikan terminal Tirtonadi sebagai framing dari sebuah judul lagunya yang populer itu. Tak hanya itu Pantai Parangtritis, Malioboro, Stasiun balapan Solo disulap menjadi sebuah lagu beken-memihak.

Sudah tak kalah keren dari penulisan judul-judul essay Goenawan Muhammad Bukan? Ah tidak. Didi kempot tetaplah Didi kempot ia maestro yang unik. berbeda dan pembeda.

Ia entitas yang berdiri sendiri tidak ada samanya, berawal mula dari kualitas dan perjuangan panjang menjalankan hobbi, berselanjar menjadi seniman, musisi. Pekerjaan itu dianggapnya sebagai panggilan jiwa sekaligus panggilan ilahi (Dakwah).

Era Millenial atau tahun 2000an. Saat industri musik Indonesia mulai mengeksploitasi tubuh wanita (khususnya) sebagai daya tarik utama dan mulai mengeyampingkan kualitas vokal. Dunia tarik suara Didi kempot dalam hal ini ikut terancam?

Sebab perlahan punya saingan dan kompetitor, tapi tidak. Oh Didi justeru membukakan jalan dan pintu bagi generasi setelahnya. Ok, jadi yang berbeda sebab ia dikenal karena idealismenya, karena kualitas iman, cita-cita dan hatinya yang selalu tegak untuk berbagi.

Tersurat dan tersirat setiap makna yang ingin disampaikan Didi kempot lewat lagu lagunya itu sungguh indah. Kita belajar soal Jawa yang lembut. Olehnya setiap angkringan seperti hidup, karena lagu lagunya, setiap persinggahan, restoran, rumah makan dari yang level burjo hingga yang kelasnya menengah itu tak pernah sepi apalagi usai dari nadanya.

Senandung lagu lagunya bak tak pernah berhenti diputar dari pagi sampai pagi lagi atau dari satu tempat ketempat lainnya, juga dari satu waktu ke waktu yang satu.

Jika lewat WB dan film film Marvel kita banyak belajar dan melatih kata-perkalimat bahasa Inggris kita, maka lewat lagu-lagu Didi kempot Kita justeru juga belajar banyak tentang bahasa Jawa secara tak lansung.

Sampai detik ini. Saya tak betul-betul yakin. Kalau satu dua dekade mendatang akan muncul maestro campursari-Jawa yang melampaui produktifitas, penciptaan, karya, ide dan kualitas sekelas beliau.

Seperti pelantun lagu Makassar “Iwan Tompo” yg berpulang 2013 silam, belum jua menemukan penggantinya yang sepadan. Sementara seni, musik dan sastra mesti terus hidup hingga akhir hayat, BUMI Manusia berhenti berputar.

Penulis: Sulaeman/Penggemar Didi Kempot dan lagu-lagunya.