oleh

Napak Tilas Masuknya Darud Da’wah Wal Irsyad di Kabupaten Pangkep

Sejarah Masuknya MAI Mangkoso ke Bonto-Bonto Ma’rang

Sebagai sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Ma’rang. Bonto Bonto adalah wilayah penyebaran masuknya MAI/DDI untuk pertama kalinya, selain karena menjadi pusat pemerintahan juga tidak lain karena menurut sejarah.

Pada Tahun 1943, salah seorang pembina bernama Mahmud belawa datang ke Pangkajene, Ibu kota Pangkep saat ini. Agar masyarakat Pangkajene ada yang bersedia membawa anaknya ke Mangkoso atau berminat membuka cabang MAI Mangkoso di Ibu Kota Kabupaten Pangkep itu.

Namun, kedatangan pembina MAI Mangkoso waktu itu tidak mendapat sambutan sebagaimana yang diharapkan, terutama di jantung kota Pangkajene, mungkin karena di Pangkajene telah berdiri Muallimin Muhammadiyah.

Waktu kepulangan beliau dari Ibu Kota Kabupaten Pangkep tersebut, Kemudian Mahmud Belawa singgah di Bonto-Bonto, mengadakan kegiatan yang kurang lebih sama dengan apa yang dilakukannya sebelumnya di Kota Pangkajene. Hasilnya, di Kampung Bonto-Bontolah gurutta Mahmud Belawa mendapat sambutan/respons yang baik.

Kala itu Masyarakat Bonto-Bonto bersedia mengirim anaknya untuk belajar dan bersedia pula membuka cabang MAI Mangkoso di Kelurahan Bonto-Bonto. Walhasil, maka di tahun yang sama, Andi Pintara sebagai Kepala Pemerintahan Bonto-Bonto mengutus beberapa anak ke Mangkoso untuk belajar, diantaranya ialah H.Abd Rauf dan Pada Tahun 1944.

Hanya berselang 1 Tahun  dibukalah cabang MAI Bonto bonto untuk pertama kali. Adapun Guru yang pertama didatangkan dari Mangkoso ke Bonto-Bonto ialah K.H Harun Ar-Rasyid.

Kendati pernah mendapat respons yang tidak penuh dari masyarakat Pangkajene, akan tetapi, pada Tahun 1946 resmi berdiri MAI – Mangkoso cabang Jagong, diresmikan lansung oleh Anre’ Gurutta K.H Abd Ambo Dalle, dengan guru yang didatangkan pertama kali ke MAI cabang jagong ini ialah Ust. Muhammad Siri dan K.H Suaib Magga dari Mangkoso.

Berbeda halnya ketika Masyarakat yang berada di Jantung Kota Pangkajene (Tumampua) Tidak berminat untuk membuka cabang MAI Mangkoso karena sudah ada Muhammadiyah, tetapi akhirnya warga Jagong justeru menyambut hal itu dengan baik.

Berangkat dengan asumsi bahwa jikalau masyarakat yang berada di jantung kota Pangkajene (Tumampua) tidak berminat membuka cabang di MAI / Mangkoso, mungkin saja hanya karena sudah ada lembaga pendidikan yang eksis di daerah tersebut,  yang di Prakarsai warga lokal (setempat).

Cabang ketiga MAI (Mangkoso) yang berdiri di Pangkep ialah MA/DDI Baru-Baru Tanga. Kampung yang hingga kini dikenal sebagai pencetak para ustadz dan penceramah ini, pada awalnya cukup dinamis.

Sebagai sebuah perkampungan yang jaraknya berada disebelah Tenggara jantung pusat kota Pangkajene, berada di kecamataan Pangkajene Kabupaten Panagkep, cabang ketiga ini termaksud dianggap paling sukses dalam mencetak kader/alumni dalam bidang dakwah di Kabupaten Pangkep.

Meski begitu, ada cerita menarik sebelum berdirinya DDI di Baru-Baru Tanga ini, sebab sebelum kehadiran DDI. Sudah ada pernah berdiri pendidikan formal atau madrasah yang bernama Madrasah As-Shirathal Mustaqim yang didirikan oleh K.H Abdullah Dg.Massese, berdiri pada Tahun 1935.

As-Shirathal Mustaqim ini adalah satu organisasi pendidkan yang berpusat di Makassar, Ketuanya bernama H Abd Razzak. Hanya saja Madrasah ini umurnya tidak lama, karena ketika pendiri dan pembina utamanya wafat, seturut dengan itu madrasah ini pun ikut mati.

Ditambah lagi dengan situasi pada saat itu, masa pergantian pemerintahan dari Pemerintah Belanda ke Jepang  (1942)

Oleh knaare pendidikan di masa pemerintahaan Belanda pendidikan tidak terlalu diawasi, terbalik di masa pemerintahan jepang justeru lembaga pendidikan semakin ketat pengawasannya, khususnya lembaga pendidikan islam, tepat awal-awal masa pemerintahan Jepang, ini pula gerbang awal masa-masa Madrasah Asshirathal Mustaqim ini gulung Tikar.

Penulis: Sulaeman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed