oleh

Sebelum Lahirnya Mangkoso, Pulau Salemo jadi Wujud Eksistensi Pesantren di Sulawesi-Selatan

Pengajian Sorongan dan Pondok Pesantren di Pulau Salemo Pangkep

Terletak di desa Mattiro Bombang, Kecamatan Liukang, Pulau Salemo menjadi salah satu pulau bersejarah, khususnya dalam pengembangan keilmuan, dunia pesantren, pengajian kitab klasik dan metode belajar Sorongan ala-Santri di Sulawesi-Selatan.

Dahulu, pulau ini dikenal sebagai pulau santri dan pencetak Ulama serta para hafidz ternama di Sulawesi. Ahmad Ridwan salah seorang alumni pengajian pondokan pulau Salemo menegaskan.

‘’Ada Tiga ulama yang terkenal sebagai ulama besar di Pulau Salemo, dianggap sebagai ulama yang mula-mula membuka pengajian di rumahnya, yaitu K.H Barti, K.H Ismail, K.H Abdur Rahim (Puang Walli).’’

Seperti dikutip penulis dalam buku dan essay berjudul ‘’Keadaan Pendidikan Islam di Sulawesi-Selatan sebelum lahirnya DDI’’ yang ditulis K.H Hijruddin Mujahid pimpinan Pondok Pesantren DDI Baru-Baru Tanga.

Dikatakan, dari sinilah sejarah awal mula, hadirnya pengajian pondokan di Sulawesi-Selatan, khususnya model pengajian yang memakai pola jenis mengaji sorongan. Upaya dakwah tersebut yang akhirnya ikut melahirkan Ulama ternama dan masyhur di Sulawesi Selatan.

Sebut saja santri yang dilahirkan dari pondok ini, diantaranya K.H Abdur Rahman Ambo Dalle Pendiri Darud Da’wah Wal Irsyad, K.H Rahman Mattameng dan K.H Amberi Said, yang pernah dipercayakan Gurutta K.H Abdur Rahman Ambo Dalle meminpin Pesantren DDI Mangkoso ketika beliau pindah ke Pare-Pare.

Masih didalam buku berjudul Ke-DDI-an yang ditulis K.H Hijruddin mujahid, kita juga akan dapati, sebuah kisah sejarah perjalanan panjang yang menggambarkan tentang keadaan sistem pendidikan islam Pertama di Sul-Sel ini.

Dikepung dan Diperebutkan oleh Jepang dan Belanda

Berada dalam kondisi yang tak mudah, sehingga kala itu sistem pengajian yang dipakai masih sistem pengajian salafiyah (Pondok) umumnya belum mempunyai kelas (strata/tingkatan).

Sebagaimana sistem yang diterapkan ustadz-ustadz atau para kiyai-kiyai di Sul-Sel ataupun Indonesia pada umumnya.

Metode dakwah atau pengajian pondokan di Pulau Salemo ini waktu itu juga belum diikat oleh lembaga pendidikan formal seperti yayasan dan lain-lain.

Disamping belum dijumpainya ruangan kelas seperti sekolah atau pesantren seperti sekarang ini, murni masing masing kiyai mengadakan atau melaksanakan pengajian di rumahnya masing-masing.

Adapun kitab yang dipelajari sesuai kitab yang sebelumnya ditentukan, sesuai kesepakatan (consensus) antara santri dan para ustadz/kiai yang ada di Pulau Salemo. Dengan waktu yang ditentukan sehingga para santri dapat mendatangi rumah ustadz/kiyai secara bergantian atau bergiliran.

Tahun 1942 ketika perang Dunia (PD II) meledak dan memasuki tahun-tahun krusial. Pulau Salemo dibombardir oleh Tentara Jepang. Dengan alasan, Belanda telah mengambil alih secara sepihak Pulau Salemo, yang waktu itu dikleim oleh pasukan Tentara Jepang sebagai tempat persembunyian dari serangan sekutu.

Sontak peristiwa ini mengakibatkan Pulau Salemo luluh-lantak dalam sekejap. Pulau Salemo dipenuhi asap hitam karena bom, kebakaran pemukiman warga tak terhindarkan, kepulan asap hitam menggelembung dimana-mana.

Rumah kediaman warga dan para sepuh Kiyai pun tak luput dari kebakaran tersebut. Akibatnya tak ada lagi tempat belajar bagi para Santri.Sejak waktu itulah kemudian, banyak para santri dari Pulau ini hijrah atau pindah ke Mangkoso, yang secara kebetulan juga waktu itu Mangkoso mulai dikenal di Sulawesi Selatan.

Masa-masa awal periode ini juga Mangkoso mulai masyhur sebagai pesantren yang maju, pesantren yang kurang lebih dianggap sudah mulai sukses menerapkan sistem klasikal/halafiyah disamping tetap mempertahankan sistem salafiyah seperti dianut dan diberlakukan di Pulau Salemo sebelumnya.

Sebenarnya ada upaya-upaya membuka kembali pengajian seperti yang dilakukan oleh para kiyai di Pulau Salemo, yakni kembali menggunakan sistem pengajian sorongan dari rumah ke rumah. Namun karena Mangkoso sudah dianggap mulai maju dan modern, sehingga perhatian masyarakat waktu itu terpusat ke Mangkoso

 Penulis: Sulaeman